Saturday, May 22, 2010
Keutamaan Ilmu Di Atas Amal - Dr Yusoff Qardhawi
Oleh sebab itu, Imam Bukhari meletakkan satu bab tentang ilmu dalam Jami' Shahih-nya, dengan judul "Ilmu itu Mendahului Perkataan dan Perbuatan." Para pemberi syarah atas buku ini menjelaskan bahawa ilmu yang dimaksudkan dalam judul itu harus menjadi syarat bagi kesahihan perkataan dan perbuatan seseorang. Kedua hal itu tidak dianggap sah kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduanya. Ilmulah yang membenarkan niat dan membetulkan perbuatan yang akan dilakukan. Mereka mengatakan: "Bukhari ingin mengingatkan orang kepada persoalan ini, sehingga mereka tidak salah faham dengan pernyataan 'ilmu itu tidak bermanfaat kecuali disertai dengan amal yang pada gilirannya mereka meremehkan ilmu pengetahuan dan enggan mencarinya."
Bukhari mengemukakan alasan bagi pernyataannya itu dengan mengemukakan sebagian ayat al-Qur'an dan hadits Nabi saw:
"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan..." (Muhammad: 19)
Oleh karena itu, Rasulullah saw pertama-tama memerintahkan umatnya untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkan ampunan yang berupa amal perbuatan. Walaupun perintah di dalam ayat itu ditujukan kepada Nabi saw, tetapi ayat ini juga mencakup umatnya.
Dalil yang lainnya ialah ayat berikut ini:
"... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama..." (Fathir: 28)
Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah, dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.
Sementara dalil yang berasal dari hadits ialah sabda Rasulullah saw:
"Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya."2
Karena bila dia memahami ajaran agamanya, dia akan beramal, dan melakukan amalan itu dengan baik.
Dalil lain yang menunjukkan kebenaran tindakan kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kali diturunkan ialah "Bacalah." Dan membaca ialah kunci ilmu pengetahuan; dan setelah itu baru diturunkan ayat yang berkaitan dengan kerja; sebagai berikut:
"Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah." (al-Muddatstsir: 1-4)
Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat manusia; antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka; antara perbuatan-perbuatan yang disunatkan dan yang bid'ah dalam ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang halal dan tindakan yang haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak; antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima.
Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kita yang memulai karangan mereka dengan bab tentang ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali ketika menulis buku Ihya' 'Ulum al-Din; dan Minhaj al-'Abidin. Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh al-Mundziri dengan
bukunya at-Targhib wat-Tarhib. Setelah dia menyebutkan hadits-hadits tentang niat, keikhlasan, mengikuti petunjuk al-Qur'an dan sunnah Nabi saw; baru dia menulis bab tentang ilmu pengetahuan.
Fiqh keutamaan yang sedang kita perbincangkan ini dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh khalifah Umar bin Abd al-Aziz, "Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki."3
Keadaan seperti ini tampak dengan jelas pada sebagian kelompok kaum Muslimin, yang tidak kurang kadar ketaqwaan, keikhlasan, dan semangatnya; tetapi mereka tidak mempunyai ilmu pengetahuan, pemahaman terhadap tujuan ajaran agama, dan hakikat agama itu sendiri.
Seperti itulah sifat kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a. yang banyak memiliki keutamaan dan sumbangan kepada Islam, serta memiliki kedudukan yang sangat dekat
dengan Rasulullah saw dari segi nasab, sekaligus menantu beliau yang sangat dicintai oleh beliau. Kaum Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.
Mereka, kaum Khawarij ini, merupakan kelanjutan dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, yang berkata kepada beliau dengan kasar dan penuh kebodohan: "Berbuat adillah engkau ini!" Maka beliau bersabda, "Celaka engkau! Siapa lagi yang adil, apabila aku tidak bertindak adil. Kalau aku tidak adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi. "
Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Sesungguhnya perkataan kasar yang disampaikan kepada Rasulullah saw ialah 'Wahai Rasulullah, bertaqwalah engkau kepada Allah." Maka Rasulullah saw menyergah ucapan itu sambil berkat, "Bukankah aku penghuni bumi yang paling bertaqwa kepada Allah?"
Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami siasat Rasulullah saw untuk menundukkan hati orang-orang yang baru masuk Islam, dan pengambilan berbagai kemaslahatan besar bagi umatnya, sebagaimana yang telah disyari'ahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Rasulullah
saw diberi hak untuk melakukan tindakan terhadap shadaqah yang diberikan oleh kaum Muslimin. Lalu bagaimana halnya dengan harta pampasan perang?
Ketika sebagian sahabat memohon izin kepada Rasulullah saw untuk membunuh para pembangkang itu, beliau yang mulia melarangnya; kemudian memperingatkan mereka tentang munculnya kelompok orang seperti itu dengan bersabda:
"Kalian akan meremehkan (kuantitas) shalat kalian dibandinglan dengan shalat yang mereka lakukan,
meremehkan (kuantitas ) puasa kalian dibandingkan dengan puasa yang mereka lakukan; dan kalian akan
meremehkan (kuantitas) amal kalian dibandingkan dengan amal mereka. Mereka membaca al-Qur'an tetapi tidak lebih dari kerongkongan mereka. Mereka menyimpang dari agama (ad-Din) bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya."
Makna ungkapan "fidak lebih dari kerongkongan mereka" ialah bahwa hati mereka tidak memahami apa yang mereka baca, dan akal mereka tidak diterangi dengan bacaan ayat-ayat itu. Mereka sama sekali tidak memanfaatkan apa yang mereka baca itu, walaupun mereka banyak mendirikan shalat dan melakukan
puasa.
Di antara sifat yang ditunjukkan oleh Nabi tentang kelompok itu ialah bahwa,
"Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala."4
Kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletak pada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran dan pemahaman mereka. Oleh karena itu, mereka dikatakan dalam hadits yang lain sebagai: "Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh." 5
Mereka baru diberi sedikit ilmu pengetahuan, dengan pemahaman yang tidak sempurna, tetapi mereka tidak mau memanfaatkan kitab Allah padahal mereka membacanya dengan sangat baik, tetapi bacaan yang tidak disertai dengan pemahaman. Mungkin mereka memahaminya dengan cara yang tidak benar, sehingga bertentangan dengan maksud ayat yang diturunkan oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, Imam Hasan al-Bashri memperingatkan orang yang tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman. Dia mengucapkan perkataan yang sangat dalam artinya, "Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu."6
ILMU MERUPAKAN SYARAT BAGI PROFESI KEPEMIMPINAN (POLITIK, MILITER, DAN KEHAKIMAN)
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan syarat bagi semua profesi kepemimpinan, baik dalam bidang politik maupun administrasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf as ketika berkata kepada Raja Mesir: " ... sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Yusuf: 54-55)
Yusuf as menunjukkan keahliannya dalam pekerjaan besar yang ditawarkan kepadanya, yang mencakup pengurusan keuangan, ekonomi, perancangan, pertanian, dan logistik pada waktu itu. Yang terkandung di dalam keahlian itu ada dua hal; yakni penjagaan (yang lebih tepat dikatakan "kejujuran") dan ilmu
pengetahuan (yang dimaksudkan di sini ialah pengalaman dan kemampuan). Kenyataan itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang anak perempuan Nabi besar dalam surah al-Qashash:
"... karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang
kuat lagi dapat dipercaya." (al-Qashash: 26)
Ia juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam dunia militer; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT ketika memberikan alasan bagi pemilihan Thalut sebagai raja atas bani Israil: "... Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa..."(al-Baqarah, 247)
Pedoman itu juga sepatutnya diberlakukan dalam dunia kehakiman, sehingga orang-orang yang hendak diangkat menjadi hakim diharuskan memenuhi syarat seperti syarat yang diberlakukan bagi orang yang hendak menjadi khalifah. Untuk menjadi hakim itu tidak cukup hanya dengan menyandang sebagai ulama yang bertaqlid kepada ulama lainnya. Karena pada dasarnya, ilmu pengetahuan merupakan kebenaran itu sendiri dengan berbagai dalilnya, dan bukan ilmu pengetahuan yang diberitahukan oleh Zaid atau Amr. Orang-orang yang bertaqlid kepada manusia yang lainnya tanpa ada alasan yang membenarkan tindakannya, atau ada alasannya tetapi sangat lemah, maka orang itu dianggap tidak mempunyai ilmu pengetahuan.
Keputusan hukum yang diterima dari orang yang melakukan taqlid, adalah sama dengan kekuasaan yang dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan, yang sangat penting. Akan tetapi ada batasan-batasan tertentu dan minimal bagi ilmu pengetahuan yang mesti dikuasai oleh hakim itu. Jika tidak,
maka dia akan membuat keputusan hukum berdasarkan kebodohan dan akan menjadikannya sebagai penghuni neraka.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah dari Rasulullah saw bersabda,
"Ada tiga golongan hakim. Dua golongan berada di neraka, dan satu golongan lagi berada di surga. Yaitu
seorang yang mengetahui kebenaran kemudian dia membuat keputusan hukum dengan kebenaran itu, maka dia berada di surga. Seorang yang memberikan keputusan hukum yang didasarkan atas kebodohannya, maka dia berada di neraka.
Kemudian seorang yang mengetahui kebenaran tetapi dia melakukan kezaliman dalam membuat keputusan hukum, maka dia berada di neraka."7
PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI MUFTI (PEMBERI FATWA)
Persoalan yang serupa dengan kehakiman ialah pemberian fatwa. Seseorang tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecuali dia seorang yang betul-betul ahli dalam bidangnya, dan memahami ajaran agamanya. Jika tidak, maka dia akan mengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal yang haram; menggugurkan kewajiban, mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, menetapkan hal-hal yang bid'ah dan membid'ahkan hal-hal yang disyariahkan; mengkafirkan orang-orang yang beriman dan membenarkan orang-orang kafir.
Semua persoalan itu, atau sebagiannya, terjadi karena ketiadaan ilmu dan fiqh. Apalagi bila hal itu disertai dengan keberanian yang sangat berlebihan dalam memberikan fatwa, serta melanggar larangan bagi siapa yang mau melakukannya. Hal ini dapat kita lihat pada zaman kita sekarang ini, di mana urusan agama telah menjadi barang santapan yang empuk bagi siapa saja yang mau menyantapnya; asal memiliki kemahiran dalam berpidato, keterampilan menulis; padahal al-Qur'an, sunnah Nabi saw, dan generasi terdahulu umat ini sangat berhati-hati dalam menjaga hal ini. Tidak ada orang yang berani melakukan hal itu kecuali orang-orang yang benar-benar mempunyai keahlian di dalam bidangnya, serta memenuhi syarat untuk persoalan tersebut. Betapa sulit sebenarnya untuk memenuhi syarat-syarat itu.
Sebenarnya Nabi saw sangat tidak suka kepada orang yang tergesa-gesa memberikan fatwa pada zamannya. Ada sebagian orang yang memberikan fatwa kepada salah seorang di antara mereka yang terluka ketika mereka berjinabat untuk mandi, tanpa mempedulikan luka yang dideritanya. Sehingga hal itu menyebabkan kematiannya. Maka Rasulullah saw bersabda,
"Karena mereka telah membunuhnya, maka semoga Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu. Sebenarnya kalau mereka mau bertanya, maka orang itu bisa sembuh. Sebenarnya bagi orang seperti itu hanya cukup bertayammum saja..." 8
Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menganggap bahwa fatwa yang diberikan oleh mereka sama dengan pembunuhan terhadap orang tersebut, sehingga beliau mendoakan mereka, "Semoga Allah juga membunuh mereka." Oleh karena itu, fatwa yang keluar dari kebodohan dapat membunuh jiwa dan membawa kerusakan. Dan pada akhirnya, Ibn al-Qayyim dan ulama yang lainnya sepakat untuk mengharamkan pemberian fatwa dalam urusan agama tanpa disertai
dengan ilmu pengetahuan; berdasarkan firman Allah SWT:
"... dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (al-A'raf: 33)
Banyak sekali hadits, qaul sahabat, dan generasi terdahulu umat ini yang melarang pemberian fatwa bagi orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan.
Ibn Sirin berkata, "Seorang lelaki yang mati dalam keadaan bodoh itu lebih baik daripada dia mati dalam keadaan berkata tentang sesuatu yang dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang itu."
Abu Hushain al-Asy'ari berkata, "Sesungguhnya salah seorang di antara mereka ada yang memberi fatwa dalam suatu masalah. Jika hal ini berlaku pada zaman Umar, maka dia akan mengumpulkan para pejuang Perang Badar."
Lalu, bagaimana bila Umar melihat keberanian orang pada zaman kita sekarang ini?
Ibn Mas'ud dan Ibn 'Abbas berkata, "Barangsiapa memberi fatwa kepada orang ramai tentang apa saja yang mereka tanyakan kepadanya, maka dia termasuk orang gila."
Abu Bakar berkata, "kangit mana yang melindungi diriku dan bumi mana yang akan menjadi tempat pijakanku, kalau aku mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui."
Ali berkata, "Hatiku menjadi sangat tenang --dia mengucapkannya sebanyak tiga kali-- bila ada seorang lelaki yang ditanya tentang sesuatu yang dia ketahui, tetapi dia tetap mengatakan, 'Allah yang Maha Tahu.'"
Ibn al-Musayyab, tokoh senior tabi'in, apabila dia hendak memberikan fatwa dia berkata, "Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku."
Semua ini menunjukkan bahwa kita perlu sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Selain itu, fatwa harus diberikan oleh orang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan, wawasan yang luas, wara', yang menjaga diri dari setiap kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsunya sendiri atau hawa
nafsu orang lain.
Atas dasar uraian tersebut, sangatlah mengherankan bila para pelajar ilmu syariah --kebanyakan pelajar yang baru masuk pada fakultas ini-- tergesa gesa memberikan fatwa dalam berbagai persoalan yang sangat pelik, problema yang sangat penting, mendahului para ulama besar, dan bahkan berani menentang para
imam mazhab besar, para sahabat yang mulia, dengan menyombongkan diri seraya mengatakan, "Mereka orang lelaki, dan kamipun orang lelaki."
Pertama-tama yang diperlukan oleh seseorang yang hendak memberikan fatwa ialah mengukur kemampuan dirinya sendiri, kemudian memahami berbagai tujuan syari'ah, memahami hakikat dan kenyataan hidup. Akan tetapi,sangat disayangkan bahwa mereka tertutup oleh penghalang yang sangat besar, yaitu
ketertipuan dengan diri mereka sendiri. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.
PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA'I DAN GURU (MUROBI)
Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang bergelut dalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da'wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata..." (Yusuf: 108)
Setiap juru da'wah --dari pengikut Nabi saw-- harus melandasi da'wahnya dengan hujjah yang nyata. Artinya, da'wah yang dilakukan olehnya mesti jelas, berdasarkan kepada hujjah-hujjah yang jelas pula. Dia harus mengetahui akan
dibawa ke mana orang yang dida'wahi olehnya? Siapa yang dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda'wah?
Oleh karena itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaitu orang yang berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT:
"... akan tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan
al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya." (Ali 'Imran: 79)
Ibn Abbas memberikan penafsiran atas kata "rabbani" sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.9
Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum ilmu itu menjadi besar.
Yang dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas. Sedangkan ilmu besar ialah ilmu yang pelik-pelik. Ada pula yang mengatakan bahwa rabbani ialah orang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang parsial sebelum ilmu-ilmu yang universal, atau ilmu-ilmu cabang sebelum
ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu pengantar sebelum ilmu-ilmu yang inti.10
Yang dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan orang yang diajarnya, sehingga dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.
Persoalan yang perlu diperhatikan oleh orang yang bergerak dalam bidang da'wah dan pendidikan ialah bahwa juru da'wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan yang susah; memberikan kabar gembira dan tidak menakut-nakuti mereka; sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang disepakati ke-sah-annya oleh Bukhari dan Muslim,
"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari."11
Al-Hafizh ketika memberikan penjelasan terhadap hadits ini mengatakan,
"Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da'wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da'wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara
bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda'wah yang dilakukan dengan keras dan kasar." 12
Yang dimaksudkan dengan perkataan ,mempermudah, di situ bukanlah terbatas pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafizh, tetapi ia berlaku lebih umum dan permanen. Misalnya mempermudah jalan bagi orang yang hendak melakukan taubat,
atau kepada setiap orang yang memerlukan keringanan; seperti orang yang sakit atau sudah tua usianya, atau orang yang berada di dalam keadaan yang mendesak.
Di antara keharusan yang berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari ilmu-ilmu agama sejauh kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan tersebut. Dia tidak boleh mengucapkan sesuatu yang tidak cocok dengan akal
pikirannya, sehingga hal itu malah berbalik menjadi fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a. berkata, "Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka. Apakah engkau menghendaki
mereka mengatakan sesuatu yang bohong terhadap Allah dan rasul-Nya?" 13
Ibn Mas'ud r.a. berkata, "Engkau tidak layak menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada sebagian orang itu."14.
Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Ibn 'Abd al-Barr dan lainnya dari Mu'adz,
sebagai hadits marfu' dan mauquf, tetapi hadits ini lebih
benar digolongkan kepada hadits mauquf.
2 Baca, Shahih al-Bukhari dan Fath al-Bari, 1:158-162, cet.
Dar al-Fikr yang disalin dari naskah lama.
3 Baca Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, karangan Ibn 'Abd
al-Barr, 1:27, cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah
4 Lihatlah sifat-sifat mereka dalam buku al-Lu'lu' wa
al-Marjan fima Ittafaqa 'alaih al-Syaikhani, khususnya
hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir, Abu Sa'id, Ali,
dan Sahal bin Hunaif (638-644).
5 Hadits Ali, Ibid.
6 Ucapan ini dikutip oleh Ibn Hazm dalam bukunya, Miftah Dar
al-Sa'adah, h. 82
7 Diriwayatkan oleh para penulis Sunan Arba'ah dan al-Hakim;
sebagai mana diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya'la, dan
Baihaqi dari Ibn Umar; seperti yang dimuat di dalam al-Jami'
as-Shaghir. (4446) dan (4447).
8 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir, dan diriwayatkan
oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibn 'Abbas. Lihat
Shahih al-Jami' as-Shaghir (4362) dan (4363).
9 Hal ini disebutkan oleh Bukhari ketika memberikan komentar
pada bab "Ilmu" dalam Shahih-nya. Al-Hafizh berkata dalam
Fath-nya, "Hadits ini sampai Ibn Abi 'Ashim dengan isnad
hasan. Dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dengan isnad
hasan yang berbeda." 1: 161
10 al-Fath, 1: 162
11 Diriwayatkan oleh al-Syaikhani dari Anas, sebagaimana
disebutkan di dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan
12 al-Fath, 1: 163
13 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-'Ilm, secara
mauquf atas Ali r.a. (Lihar al-Fath. 1 225)
14 Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah as-Shahih secara
mauquf atas Ibn Mas'ud. Ibid.
------------------------------------------------------
FIQH KEUTAMAAN
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
Robbani Press, Jakarta
Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M
3 yang menghancurkan manusia
Artikel menarik dari blog masanya memilih jalan yang lurus
Salam Kamunting,
Ketua pemuda ahli syurga, Hasan bin Ali radhiaLlahu anhuma, di dalam himpunan nasihat dan kata – kata hikmah yang terakam di dalam sejarah ketinggian ilmu dan budinya pernah bekata;
“Kehancuran manusia adalah pada 3 perkara: 1) Sifat takabbur. 2) Sifat Tamak. 3) Sifat dengki. Adapun sifat takabbur, ia menghancurkan ugama dan kerananyalah iblis dilaknat oleh Allah. Sifat tamak pula, ia adalah musuh kepada diri sendiri dan kerananyalah nabi Adam dikeluarkan daripada syurga. Manakala sifat dengki adalah pengepala kepada kejahatan dan kerananyalah Qabil telah sanggup membunuh Habil.” ( Kitab ‘Allimu auladakum hubba aali baiti al nabi. ms 30 )
Inilah hikmah yang hebat dan cukup meruntun jiwa untuk menginsafi diri dan mendorong taqwa kepada Allah. Semoga Allah merahmati Hasan bin Ali radhiaLlahu anhuma dan menempatkan kita bersamanya dan para sahabat radhiaLlahu anhum di syurgaNya.
Inilah 3 sifat buruk yang disebut di dalam al Quran sebagai punca awal maksiat sang makhluk kepada tuhannya. Sebelumnya tiada satupun makhluk kecuali tunduk dan patuh kepada tuhan sang pencipta yang maha agung.
Ia bermula dengan sifat angkuh dan sombong Iblis yang enggan sujud kepada Adam alaihissalam. Di situlah bermula keengkaran dan kekufuran, lalu iblis dilaknat Allah.
Kemudian datuk kita terlalai oleh pujukan dan tipudaya iblis daripada mengingati pesanan tuhannya untuk tidak mendekati ‘pokok sambung nyawa’ di syurga itu. Nabi Adam didorong oleh ketamakan untuk kekal hidup tanpa mati di syurga menikmati anugerah Allah. Adam memakan daripada pokok itu, lalu baginda dihukum dengan dikeluarkan daripada syurga disebalik taubatnya yang diterima Allah.
Kemudian Allah menceritakan jenayah pertama di muka bumi yang dilakukan oleh Qabil yang telah sanggup membunuh saudara kandungnya sendiri, Habil kerana sifat dengki yang meluat – luat sehingga membutakannya daripada mendengar nasihat yang benar daripada saudaranya itu.
Sayyidina Hasan telah mengingatkan kita bahawa ketiga – tiga sifat buruk inilah yang akhirnya terus membunuh dan menghancurkan manusia selepas daripada itu. Manusia gagal mengambil iktibar daripada cerita – cerita awal kejadian manusia itu, gagal mengesan keburukan sifat – sifat tersebut di dalam tubuh mereka dan gagal menghindari dan mengubatinya.
Sifat takabbur adalah lawan sifat tawadhu’. Ia bermaksud membesar diri dan membangga – banggakan keadaan dirinya, seterusnya memandang leceh dan rendah terhadap orang lain. Inilah sifat paling buruk kerana daripadanyalah akan lahir dan bercabangan sifat – sifat buruk yang lain. Ini kerana sifat itu hanya layak untuk Allah dan menjadi milikNya semata – mata.
Sifat takabbur mudah dikesan kerana wujud tanda – tanda yang zahir, antaranya; suka menunjuk diri di khalayak ramai, menonjolkan kelebihannya di hadapan mereka, suka mengetuai majlis keramaian dan berlagak semasa berjalan, tidak suka kata – katanya ditolak sekalipun salah bahkan enggan menerima teguran dan memandang rendah terhadap orang yang lemah dan miskin.
Selain itu, antara tanda – tanda takabbur lagi adalah suka menyucikan diri sendiri dan memuji – mujinya, berbangga dengan keturunannya dan menunjuk – nunjuk dengan kekayaannya, ilmunya, ibadahnya, kecantikannya, kekuatannya, penyokong dan pembantunya yang ramai dan lain – lain lagi.
Sifat tamak pula adalah keinginan melampau untuk menikmati harta dan kedudukan. Tamak terhadap harta ada 2 peringkat;
Pertama, terlalu inginkan harta dan bersungguh – sungguh menperolehinyamelalui jalannya yang harus dan dibenarkan. Ini tetap tercela kerana betapa banyak masanya dihabiskan untuk memburu harta sedangkan masa itu adalah emas yang lebih bernilai daripada harta. Masanya itu sepatutnya dihabiskan untuk memburu taqwa dan taat kepada Allah berbanding harta yang telah ditetapkan oleh Allah untuknya.
Kedua, ketamakan terhadap harta sehingga mendorongnya melampaui had yang dibenarkan syara’. Ia memasuki jalan – jalan haram tanpa lagi menghiraukan kemurkaan Allah. Inilah penyakit ‘asy syuhh’ ( terlalu bakhil ) yang diingatkan Allah di dalam al Quran agar dijauhi.
Sabda Rasulullah sallaLlahu alaihi wasallam: ” Berhati – hatilah kamu daripada sifat asy syuhh. Sesungguhnya asy syuhh itu telah menghancurkan orang sebelum kamu. Ia menyuruh kepada putus hubungan, lalu mereka memutuskannya. Ia menyuruh kepada kebakhilan, lalu mereka menjadi bakhil. Ia menyuruh kepada kejahatan, lalu mereka melakukan kejahatan.” ( Riwayat Abi Daud. Albani mensahihkannya.)
Adapun tamak kepada kedudukan, maka ia adalah lebih buruk daripada tamak kepada harta. Ia terbahagi kepada 2 bahagian;
Pertama, tamak kepada kedudukan melalui kuasa dan harta. Ini cukup bahaya kerana ia akan menghalang daripada kebaikan akhirat dan kemuliaannya. Orang yang menggilai kekuasaan tidak akan dibantu dan diberi petunjuk oleh Allah kecuali mereka yang menerimanya tanpa meminta.
Kedua, tamak kepada kedudukan melalui perkara – perkara ugama seperti ilmu, amal, kezuhudan dan sebagainya. Inilah seburuk – buruk ketamakan. Agama adalah untuk memburu dan mengejar ridha Allah dan kedudukan di sisiNya, tetapi mereka ini telah menyalah gunakannya untuk keduniaan.
Manakala sifat dengki pula, maka ia adalah lawan sifat suka dan mengimpikan kebaikan untuk orang lain. Dengki menjadikan tuannya terlalu mengimpikan sesuatu nikmat itu hilang daripada orang lain. Ia adalah penyakit yang buruk, hina dan menghancurkan segala kebaikan. Allah menyuruh nabiNya berdoa agar dijauhi daripada kejahatan mereka yang berdengki. ( Surah al ‘alaq; 5 )
Hasad dengki terjadi akibat beberapa perkara; permusuhan, kebencian, ujub, cintakan kedudukan, busuk hati dan lain – lain penyakit hati. Ia terlalu buruk dan menakutkan kerana ia boleh saja berlaku di kalangan sendiri, kawan – kawan, para ulama dan peniaga dan keluarga.
Itulah gambaran ringkas keburukan 3 penyakit utama yang menghancurkan manusia sebagaimana digambarkan oleh Sayyidina Hasan bin Ali radhiaLlahu anhu.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menjauhi diri daripada berakhlak dengan akhlak – akhlak yang buruk dan terhina. Bersamalah menghias diri dengan sifat – sifat ugama yang mulia.
Thursday, May 20, 2010
Benci Maksiat.. Bukan Si Pembuat Maksiat
Tertarik dengan ucapan yang disampaikan oleh Syaikhuna al-Allamah Habib Ali al-Jifri hafizahullah berkenaan “ Pandangan” . Saya terfikir kalau semua orang dapat amalkan seperti apa yang disampaikan oleh Syaikhuna al-Allamah sudah tentu akan wujudnya berbaik sangka dan berlapang dada dengan semua orang.MasyaAllah, inilah sari pati ilmu Tasawuf yang diperjuangkan oleh para ulama Ahlusunnah Wal Jamaah. Tidak merasakan diri lebih daripada orang lain. Tidak merasakan bahawa hanya diri ini yang layak masuk ke Syurga Allah taala. Bilamana melihat seseorang yang tergelincir daripada jalan Allah taala, terus ditempelak dan dicaci maki zat si pembuat maksiat tersebut. Seolah-olah si ahli maksiat sudah tidak punya peluang untuk bertaubat. Kekadang lupa, kemungkinan orang yang kita caci maki kerana maksiat yang dilakukan olehnya mungkin bisa menjadi seorang yang lebih baik daripada si pencaci. Allah taala berhak membolak-balikkan hati seseorang.
BENCI MAKSIAT, BUKAN SI PEMBUAT MAKSIAT
Ini yang perlu ada pada seorang muslim yang sejati. Kita membenci maksiat dan kesalahan yang dilakukan bukannya zat pembuat maksiat tersebut. Perumpamaannya mudah :
“ Kita membenci bau busuk pada bangkai tersebut, bukannya pada bangkai itu sendiri. Ya kemungkinan bangkai tersebut adalah binatang peliharaan yang paling kita sayangi sebelum rohnya dicabut. Namun bilamana rohnya sudah dicabut, serta berlalunya waktu tertentu menyebabkan mayat tersebut berubah baunya menjadi busuk. Adakah dengan sebab bau busuk pada bangkai tersebut menyebabkan kita terus mencaci maki binatang kesayangan kita sendiri?”
Ya begitu juga dengan maksiat. Kita ibaratkan ianya sebagai bau busuk yang ada pada seseorang. Bau busuk tidak akan hilang jika semua hanya pandai mencai maki semata-mata. Namun apa yang sepatutnya kita lakukan adalah dengan menunjukkan kepada seseorang yang punya bau busuk tersebut cara yang terbaik untuk mengeluarkan dirinya daripada bau busuk itu.

SAYANG TAK SEMESTINYA BERDIAM DIRI
Ya, sayang kepada seseorang bukannya bermaksud kita akan berdiam diri bilamana melihat dirinya melakukan maksiat. Namun apa yang perlu dilakukan adalah mencari jalan terbaik bagaimana ingin mengubah perkara tersebut. Ini barulah sayang yang sebenar. Kalau kita berdiam diri daripada menegur , maka ini bermakna kita menyukai sahabat kita menjerumuskan dirinya ke dalam neraka. Sayangkah begitu?
Cara memalukan seseorang dihadapan orang ramai, menjatuhkan air mukanya bukanlah cara yang terbaik. Malah akan menyebabkan semakin jauh daripada kebenaran.
Kebanyakkan orang yang baik bilamana melihat seseorang tidak memakai tudung akan mengatakan : “ Ish.. Teruknya dia tu, tak pakai tudung!!” .
Mengapa kita tidak cuba mengubah perkataan kita kepada : “ Kenapa dia tak pakai tudung? Bukankah ianya wajib? Emm, mungkin dia tak dapat penjelasan sebenar berkenaan fadhilat memakai tudung. InsyaAllah selepas dia memahami akan hukum hakam memakai tudung dia akan berubah sedikit demi sedikit. Berkemungkinan dia akan jadi lebih baik daripada diri aku satu hari nanti”
KEMUNGKINAN DOSA YANG DILAKUKAN AKAN MENYEBABKAN DIRINYA HAMPIR DENGAN ALLAH TAALA
Jika difikirkan sedalam-dalamnya, ya mungkin inilah hikmahnya mengapa Allah taala menjadikan dosa dan pahala. Ada orang yang terfikir di benak fikirannya “ Mengapa perlu ada dosa? Kan sudah baik kalau yang ada hanya pahala semata.”
Jika berdosa barulah kita akan rasakan betapa diri ini hina di Allah taala, merasa ingin bertaubat serta menghampirkan serta meletakkan sempadan di antara dirinya dan dosa.
Mengapa perlu ada busuk? Rasanya sudah memadai jika wangi meliputi buana.
Cuba fikirkan sedalam mungkin. Jika tidak punya bau busuk, bagaimana kita boleh membezakan ini wangi dan itu busuk? Jadi semua yang Allah taala jadikan punya hikmahnya. Kita diberikan akal untuk berfikir. Gunakan akal untuk kebaikkan, gunakan akal untuk ISLAM, gunakan akal untuk UMMAH.
Semoga diri ini mampu beramal sebelum mengucapkannya. Amin Ya Rabb
Mohd Nazrul Abd Nasir,
Penuntut Ilmu Masjid al-Azhar al-Syariff & Masjid al-Asyraff,
Rumah Kedah Transit Hayyu 7,
Kaherah Mesir
Wednesday, May 5, 2010
Makam-makam nafsu manusia
1. NAFSU AMMARAH
Nafsu ammarah ialah nafsu tingkat yg paling jahat. Ia tidak lain mengajak manusia yg dikuasainya ke jalan kejahatan, melakukan maksiat dan seronok melakukannya.
Nafsu ammarah disebut oleh Allah di dalam Al-Quran, Firman Allah yg bermaksud,
“ Sesungguhnya nafsu (ammarah) itu sangat menyuruh berbuat jahat. “
(Surah Yusuf: 53)
SIFAT2 ORG YG BERNAFSU AMMARAH:
1. Selalu terdedah kpd godaan nafsu dan syaitan. Nafsu ammarah sentiasa menyuruh seseorg berbuat kejahatan sama ada ia faham perbuatan itu jahat atau tidak.
2. Tidak merasa duka atau sesal di atas perbuatan jahatnya, malah perasaannya lega dan gembira. Contohnya bila tertinggal solat, hatinya tidak runsing dan kesal sedikit pun, bahkan kadang2 merasa gembira dan senang.
3. Terlalu gembira bila mendapat nikmat dan berputus asa bila ditimpa bala dan kesusahan.
“ Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, nescaya mereka gembira dgn rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah akibat kesalahan tangan mereka sendiri, lantas mereka berputus asa. “
(Ar-Rum: 36)
4. Sifat2 yg timbul dari benih nafsu ammarah ini ialah bakhil, tamak dan haloba akan harta dunia serta terlalu cintakan keduniaan, panjang angan2, sombong, takabbur, sukakan kemegahan, ingin namanya terkenal dan mahsyur, hasad dengki, dendam kesumat, khianat dan niat jahat, lalai terhadap Allah dan lain2.
Barang siapa mendapati di hatinya ada salah satu sifat tersebut, itu tandanya dia termasuk dalam golongan ammarah. Org berilmu atau tidak berilmu boleh terjebak dalam golongan ini.Nafsu ammarah ini adalah serendah2 darjat dan sejahat2 nafsu dalam dunia Tasawwuf. Tempat yg wajar utk golongan ini ialah KAWAH NERAKA yg penuh azab yg maha pedih.
2. NAFSU LAWWAMAH
Di dalam Al-Quran, Allah berfirman yg bermaksud:
“ Aku bersumpah dgn nafsu lawwamah (pencerca dan pengkritik diri). ” (Al-Qiamah: 2)
Nafsu lawwamah ialah nafsu yg selalu mengkritik atau mencela diri sendiri apabila berlaku sesuatu kejahatan dosa atas dirinya.
Contohnya, apabial tertinggal solat, hatinya menyesal dan segera memohon ampun kepada Allah dan mengqadhakannya. Bila terlajak berbuat dosa, ia segera menyesal. Walaubagaimanapun, utk berbuat kebajikan dan taat, ia masih terasa berat dan dilakukan dalam keadaan terpaksa dan tidak terasa nikmat.
Nafsu lawwamah lebih tinggi sedikit daripada nafsu ammarah kerana org ini melakukan sesuatu dgn ilmu dan kenal kejahatan dgn ilmu. Namun, hatinya masih lemah dan nahsunya masih rakus dan banyak mazmumah. Cuma dia mudah tersedar bila ditegur. Walaupun hatinya boleh dan mudah terdorong kea rah ibadah dan kebaikan tetapi nafsunya masih belum dpt ditundukkan sepenuhnya.
Sabda Rasulullah SAW:
“ Apabila Allah menghendaki kebaikan kpd seseorg, maka Allah akan menjadikan utknya penasihat dari hatinya (sendiri). “ (Riwayat Abu Mansur Ad-Dailami)
SIFAT2 ORG YG BERNAFSU LAWWAMAH:
1. Mencela kesalahan diri sendiri.
2. Selalu berfikir (bertafakur) mengenang dosa dan keburukan.
3. Rasa takut bila rasa bersalah.
4. Mengkritik trhadap apa jua yg dikatakan kejahatan.
5. Mudah merasa riya’ ya’ni hendak menunjuk2 kpd org apabila membuat kebaikan.
6. Mudah merasa sum’ah, iaitu ingin mmperdengarkan atau mmberitahu kpd org ssuatu kebajikan yg dibuatnya supaya mndpt pujian org.
7. Mudah jg merasa ujub, iaitu perasaan yg melonjak2 dlm hati, merasakan diri lebih lebih baik drpd org lain, walaupun pada zahirnya ia menunjukkan sifat tawadhu’ atau tidak mahu terkenal atau pemurah.
8. Lain2 sifat mazmumah dlm hati masih tidak mampu dilawan dan sedang menguasai hatinya.
Martabat nafsu lawwamah terletak pada kebanyakan org awam. Syurga utk org martabat ini tidak trjamin, kecuali setelah mndapat kemapunan Tuhan dan rahmat-Nya.
Jalan selamat utk org yg brsifat nafsu lawwamah ialah perlu sntiasa brgaul dgn org baik dan sntiasa berada dlm lingkungan (suasana) baik. Ia hendaklah mnjauhi kwn2 dan suasana jahat, kerana hatinya mudah trgoda dan trikut2 kejahatan.
Selain itu, org yg brsifat atau yg berada pada makam nafsu ini hendaklah:
a) Belajar dan berusaha utk melatih diri brmujahadah bg melawan hawa nafsu dgn cara menanamkan benci kpd maksiat dan menanamkn rasa cinta kpd kebajikan.
b) Dibantu pula dgn zikrullah supaya hati lebih lembut.
c) Setelah itu dibantu lagi dgn berdoa memohon prtolongan Allah utk memudahkn melawan nafsunya itu.
d) Hendaklah juga dipimpin guru mursyid.
3. NAFSU MULHAMAH
Setelah seseorg melaului mujahadah yg sungguh2 utk meleburkan nafsu ammarah dan lawwamah maka nafsunya akan meningkat kepada nafsu mulhamah. Nafsu peringkat ini sudah menerima proses kesucian hati atau mujahadatunnafs. Tiada lintasan2 kotor atau was2 syaitan lagi, sebaliknya malaikat atau Allah mengilhamkan kebaikan pada hatinya.
Firman Allah,
“ Demi nafsu (manusia) dan yg mnjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yg buruk dan mana yg baik, sesungguhnya dpt kemenanganlah org yg mnyucikan hatinya dan rugilah (celakalah) org yg mngotorkannya. ”
(As-Syam: 8-10)
SIFAT2 ORG YG BRNAFSU MULHAMAH:
a) Tidak sayangkan harta, tidak sayangkan dunia.
b) Merasa cukup dgn kurniaan Allah (qanaah).
c) Mendapat ilmu laduni dan ilham.
d) Timbul perasaan merendah diri kepada Allah (tawadhu’).
e) Taubat yg benar2 (hakiki).
f) Tahan menanggung kesusahan dan lain2 sifat trpuji.
Mereka dlm martabat ini mulai masuk ke sempadan makam wali dan mulai mencapai fana yg mnghasilkan makrifat dan hakikat (syuhud).
Walaupun bagaimanapun sifat2 baik sama ada zahir atau batinnya belum benar berakar umbi dgn teguh dalam diri dan hatinya. Oleh itu ia kena menjaganya dgn mengawal diri dan hatinya serta perlu meningkatkan mujahadah dan meningkatkan amalan solehnya. Kerana ujian ke atasnya sentiasa ada. Sekiranya ia tidak berjaga2 nanti Allah akan mencabut kembali makam itu menjadai lawwamah.
4. NAFSU MUTMAINNAH
Hasil latihan yg berterusan, nafsu mulhamah akan meningkat kepada nafsu mutmainnah. Hati sudah sampai ke peringkat suci dan tenang. Nafsu mutmainnah adalah martabat nafsu pertama yg telah mula mendapat keredhaan Allah dan ia telah layak memasuki syurga.
Firman Allah,
“ Wahai org yg bernafsu mutmainnah, pulanglah ke pangkuan tuhan-Mu dalam keadaan redha-merdhai dan masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku. “
(Al-Fajr: 27-30)
SIFAT2 ORG YG BERNAFSU MUTMAINNAH:
a) Murah hati dan tidak lekat wang di tangan kerana bersedekah.
b) Tawakkal yg benar.
c) Arif dan bijaksana.
d) Kuat beribadah.
e) Syukur yg benar.
f) Redha pada segala hukuman Allah.
g) Takwa yg benar dan lain2 sifat trpuji.
5. NAFSU RADHIAH
Hasil kegigihan melatih diri utk memakrifatkn diri kepada Allah, org yg brnafsu mutmainnah akan meningkat kepada nafsu radhiah. Org ini memiliki keseluruhan sifat mahmudah dan kuat hubungan hatinya dgn Allah.Org ini memdapat pimpinan ilmu laduni dan mempunyai pandangan mata hati yg tajam atau dikenali sbg firasat.
Sepertimana sabda Rasulullah SAW:
“ Takutilah akan firasat org mukmin, bahawasanya org2 mukmin itu melihat dgn nur Allah (petunjuk Allah SWT). “
(Riwayat At-Tirmizi)
Tabiat org peringkat ini luar biasa, ia tidak takut pada bala Allah dan tidak tahu gembira pada nikmat Allah, yg ia tahu hanya keredhaan Allah dan hukuman-Nya.
Firman Allah yg brmaksud:
“ Ssungguhnya wali2 Allah itu tak pernah rasa takut dan bimbang. “
(Surah Yunus: 62)
Nafsu mereka sudah terkikis dari akar umbinya sekali dan mereka disinari oleh nur syuhud kepada makrifat, bertalu2 masuk ke dalam hati nurani yg tetap waja itu.
Alam di sekeliling mereka laksana cermin. Apabila melihat alam ia ‘nampak’ (teringat atau terasa) akan Allah. Hal itu berlaku setiap ketika.Makam ini jg disebut sbg makam musyahadah spt mana Rasulullah SAW bersabda di dalam hadis ttg sifat ‘al-ihsan’.
Sabda Rasulullah SAW:
“ … maksud ehsan ialah apabila engkau menyembah Allah hendaklah terasa seolah2 engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahawa Allah melihat kamu. “
(Riwayat Muslim)
Sifat2 mahmudah yg timbul dari nafsu radhiah ialah zuhud, ikhlas, wara’, mninggalkan perkara2 yg bkn urusannya, memelihara hukum-hakam Allah dan lain2 sifat kerohanian yg tinggi.
Makam nafsu ini hanya dpt dicapai oleh para wali Allah. Mereka dpt merasa nikmatmelakukan kebajikandan berbudi luhur. Zikir wiridnya hebat, bukan sekadar di lidah tetapi hatinya penuh khusyu’ dan tawadhu’ mengingati Allah.
Firman Allah SWT:
“ Berzikirlah pada Tuhanmu dalam hatinya dalam keadaan merendah diri dan takut. “
(Al-A’raf:205)
6. NAFSU MARDHIAH
Mereka yg telah sampai ke peringkat nafsu mardhiah kelihatan lebih tenang dan tenteram. Hati dan jiwanya telah benar2 sebati dgn Allah SWT.
Sabda Rasulullah SAW yg brmaksud:
“ Apabila kamu sekalian melihat seseorg mukmin itu pendiam dan tenang, maka dekatilah ia. Ssungguhnya dia akan mengajar kamu ‘hikmat’. “
(Riwayat Ibnu Majah)
Segala gerak-geri org di peringkat nafsu ini diredhai Allah. Sabda Rasulullah SAW dlm hadis Qudsi:
“ Sentiasalah hamba-Ku berdampingan kepada-Ku dgn mengerjakan ibadat sunat hingga aku kasihkan dia maka apbila Aku kasihkan dia nescaya adalah Aku pendengarannya yg ia mendengar dgnnya, penglihatan yg ia melihat dgnnya, pertuturan lidahnya yg ia bertutur dgnnya, penampar tgnnya yg ia menampar dgnnya, brjalan kakinya yg ia brjalan dgnnya dan brfikir hatinya yg ia brfikir dgnnya. “
(Riwayat Imam Bukhari)
Org yg dapat mncapai martabat nafsu kamilah digelar wali Allah dlm martabat yg istimewa.
SIFAT2 ORG YG BERNAFSU MARDHIAH:
a) Elok dan tingginya budi atau kesusilaan org ini umpama nabi2.
b) Lemah-lembut dalam pergaulan masyarakat sbgaimana perangai nabi2.
c) Sentiasa ghairah utk brdamping dan bribadah kepada Allah.
d) Sentiasa brfikir pada kebesaran Allah.
e) Redha dan rela dgn apa2 pemberian Allah dan lain2 sifat trpuji.
7. NAFSU KAMILAH
Org yg berada di peringkat nafsu kamilah ini, berada di peringkat nafsu tertinggi. Setiap perlakuannya benar2 mengikut garis keredhaan Allah dan tidak pernah terdorong oleh hasutan nafsu dan syaitan kepada kejahatan.
Cintanya tertumpu pada Allah, ingatannya pada Allah tidak pernah putus. Allah SWT membayangkannya dalam hadis Qudsi yg brmaksud:
“ Ssungguhnya telah lama org yg baik2 itu rindu utk brtemu dgn Aku, dan (sebaliknya) Aku lebih rindu utk brtemu dgn mereka. ”
(Riwayat Abu Darda’)
Hanya para rasul, para nabi dan wali Allah shj yg boleh sampai ke taraf nafsu kamilah. Org soleh, pejuang kebenaran boleh menuju ke tingkat nafsu yg tinggi itu dgn proses mujahadah yg brsungguh2.
Apabila kita telah mengenal di mana tahap nafsu kita, maka dptlah kita brusaha meningkatkannya ke peringkat yg lebih tinggi dan mndorongnya kpd kebaikan. Bahkan tuntutan meningkatkn nafsu ke makam yg tinggi adalah diperintahkn.
Kerana org yg berada di peringkat nafsu terendah yg brtaraf binatang, bererti ia sentiasa berada dalam suasana maksiat dan berdosa serta menderhakai Allah. Maka wajiblah meninggalkan segala maksiat dan kembali menjadi hamba Allah yg taat.
Have seen in which tariqah we r in? It may be hard to improve ourselves towards reaching His blessings but somehow it’s not impossible. Let’s pray for each and every one of us so that we’ll be able to become a better Muslim from now on.
WE LOVE YOU ALLAH AND WE’LL DO ANYTHING TO GET YOURS.
Dipetik dari blog http://layyinulharir.blogspot.com/
Sunday, May 2, 2010
Konsep Dan Falsafah Rukun Islam
DR. HARUN DIN
FALKUTI PENGAJIAN ISLAM
UKM, BANGI , SELANGOR
MATLAMAT MANUSIA'
AI-Quran menyebut suatu ayat yang bermaksud:
Al-Quran menyebut lagi ayat yang bermaksud :-
"Sesungguhnya kepada Tuhanmu tempat penghabisan (kamu menuju)."
"Bahawasesungguhnya kepada Tuhan kamu tempat dikembalikan."
"Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah (kepunyaan Allah) dan kepada-Nya kita semua kembali kepada-Nya."
Sejak dari manusia diwujudkan hinggalah ia mati dan dikembalikan kepada Allah, jalan yang ditempohnya, walaupun berliku-liku, tetapi sebenarnya ia menuju ke suatu matlamat sahaja. Jalan itu adalah jalan lurus dan tidak lagi berbalik kebelakang. Jalan menuju Allah s.w.t.
Jalan hidup manusia adalah bermula dari alam roh (semasa dijadikannya) menuju ke alam dunia, yang dijadikan jasadnya, terus kepada alam kubur yang pasti menunggunya, menuju ke alam berzakh tempat istirehat atau sebaliknya, untuk dibawa ke alam mahsyar tempat hisab amalannya dan seterusnya ke syurga atau neraka tempat akhirnya.
Perjalanan hidup manusia dalam konsep kehidupan yang dijelaskan itu adalah berlaku secara sistematis, mengikut plan yang dikehendaki oleh Allah s.w.t. Manusia dalam arus itu terus berjalan dari satu alam ke suatu alam yang lain secara jalan satu hala, yang tidak boleh berpatah balik.
Allah maha mengetahui dengan hakikat manusia dan maha mengetahui pula dengan jalan yang ditempuhnya, oleh itu, setelah diciptakan manusia, diciptakan pula jalan hidupnya iaitu jalan Iman dan Islam demi kesejahteraan dan kebahagiannya.
Bagi menjaminkan manusia ini benar-benar menjadi khalifah di bumi, diwahyukan kepada para Rasul Islam yang akan menjadi cara hidup yang lengkap, untuk diikuti oleh manusia.
Islam itu pula ditetapkan rukun-rukunnya untuk mudah manusia memahami apakah Islam itu dan apa pula tuntutan-tuntutannya.
Lima rukun Islam mempunyai konsep dan falsafah yang amat luas. Selagi mampu menganalisa rukun Islam itu maka selama itu rukun-rukun itu mampu memberikan erti, konsep dan falsafah yang sesuai diketengahkan sebagai panduan.
Kertas ini adalah suatu percubaan kerdil ke arah memahami konsep dan falsafah rukun Islam .
RUKUN ISLAM DAN KONSEPNYA:
Perkataan 'rukun' jika diteliti dari sudut pengertiannya menerusi kamus-kamus Arab, maka ianya bererti:
a. sesuatu yang menguatkan
b. yang mempertahankannya atau memuliakannya
c. bahagian yang penting dan terkuat.
Bahagian yang boleh menguatkan, mempertahankan, memuliakan Islam itu adalah yang terkandung dalam rukun Islam. Bahagian inilah yang penting dan terkuat. Rukun Islam dalam kontek ini merupakan suatu konsep tersendiri yang amat luas
pengertiannya. la adalah nilai Islam itu sendiri pada diri seseorang. Rasulullah s.a.w. pernah menyebutkannya sebagai tiang agama.
Dalam kontek solat sebagai contoh, Rasulullah s.a. w .bersabda yang bermaksud:
"Sembahyang itu tiang agama. Sesiapa yang mendirikannya, maka sesungguhnnya ia mendirikan agama. Sesiapa yang meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah meruntuhkan agama."
Hadis di atas jelas menyebut sembahyang (solat) tiang agama, yang bererti ianya bahagian penting yang berkait rapat dengan jatuh bangunnya Islam pada seseorang itu. Jika ditinjau dari sudut yang lebih meluas dari konsep yang terkandung dalam rukun Islam, maka dapat diperincikan seperti berikut:-
1. Konsep Islam Sebagai Bangunan
Islam yang mengandungi rukunnya, telah dijelaskan yang rukun itu sebagai tiang.
Diperjelaskan lagi oleh Rasulullah s.a. w .dalam sebuah hadisnya yang menggambarkan Islam itu sebagai bangunan. Hadis itu bermaksud:
"Bandingan saya dengan Nabi-Nabi yang sebelum saya adalah seperti seorang yang membina sebuah bangunan. Semua bahagian dari bangunan itu telah siap, melainkan satu bahagian kecil lagi yang belum siap, semua orang yang melihat bangunan itu memuji bangunan itu cuma ada kekurangannya. Sayalah (sabda Rasulullah) bahagian yang terakhir yang menyempurnakan bangunan itu. Sayalah Rasul terakhir yang diutus untuk melengkap sempurnakan bangunan itu."
Hadis itu memberi gambaran (antara lainnya) Islam itu sebagai bangunan. Konsep bangunan dalam kontek ini memberikan suatu gambaran yang lebih luas bahawa Islam itu mempunyai asasnya. Tiangnya, bumbungnya, dindingnya dan sebagainya. Asas adalah aqidah. Tiang adalah rukun IsIam, Bumbung adalah pemerintahan Islam. Dinding adalah perlaksanaan undang-undangnya.
2. Konsep Rukun Islam Sebagai Skop Amalan
Rukun Islam yang bermula dari syahadah dan berakhir dengan hajj, memberikan suatu gambaran tentang skop Islam yang meluas. Di mana Islam itu tidak terhenti di atas pengakuan dan amalan secara individu sahaja tetapi ianya memerlukan gerak kerja dan tindakan yang meliputi sehingga kepada persoalan negara dan ummah.
i. MengIslamkan Diri
Konsep syahadah memberi erti bahawa Islam itu perlu dimulakan dengan diri sendiri. Tunduk patuh kepada titah perintah Allah secara penuh ikhlas. Menyerah diri kepada Yang Maha Esa. Redha kepada semua hukum dan balasan yang diterima dari dunia hingga ke akhirat. Penglslaman diri dalam konsep syahadah ini memerlukan ketegasan hati dan kekuatan azam untuk menjadi hamba Allah yang setia. Ketaatan dan kepatuhan hanya kepada Allah yang diutamakan. Ketika Ali bin Abi Talib r.a. melafazakan kalimah syahadah ini dihadapan Rasulullah s.a. w .dengan bersungguh-sungguh, Rasulullah bertanya (menguji) Ali. Apakah kamu telah bertanya dan berunding dengan bapamu Abu Talib tentang pengIslaman ini Ali bertanya balik kepada Rasulullah s.a.w : Ya Rasulullah adakah Allah s.w.t. bertanya Abu Talib ketika saya hendak dijadikan. Tidak kata Rasulullah. Kalau demikian kata Ali, mengapa saya perlu bertanya bapa saya (Abu Talib) dalam hal mengucap syahadah untuk berbakti kepada Allah yang menjadikan saya.
Syahadah tidak melibatkan sesiapa, selain dari diri sendiri. Seseorang itu boleh beriman dengan Allah dan boleh bersyahadah seorang diri dan sah Imannya di sisi Allah. Kerana itu dikaitkan konsep yang terkandung dalam syahadah itu dengan konsep mengIslamkan diri sendiri.
ii. MengIslamkan Keluarga dan Masyarakat
Setelah seseorang itu bersyahadah yang dikaitkan dengan konsep mengIslamkan diri, seorang muslim itu perlu mendirikan solat (sembahyang) . Konsep sembahyang adalah konsep perhubungan dua hala. Dengan Allah dan dengan manusia. Manusia yang perlu diberi perhatian dahulu adalah keluarga dan kemudian masyarakat.
Konsep menjaga diri dan keluarga telah dinyatakan oleh Allah s. w. t kepada Muhammad s.a. w sejak dari zaman permulaan Islam dengan firmannya yang bemaksud:
"Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat"
Firmannya lagi
"Wahai orang yang beriman jagalah diri kamu dan ahli-ahli {keluarga) kamu dari api neraka."
Hubungan salat dengan keluarga dan masyarakat dapat dilihat dari tabiat (nature) sembahyang itu sendiri yang memerlukan pertamanya berguru dan mengadakan persediaan awal untuk bersembahyang seperti pakaian dan sebagainya. Lebih-lebih lagi sembahyang itu digalakkan berjuma'ah dan sebagainya. Semua itu memerlukan perhubungan dengan keluarga dan masyarakat.
iii. Kepimpinan umat Islam
Jika dilihat dari solat berjemaah, jelas kelihatan konsep kepimpinan yang amat diperlukan oleh umat Islam. Imam dalam solat memerlukan seorang yang mampu memimpin makmum. Mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Kelakuan dan tutur katanya tidak ada yang canggong dan diragukan. Apabila imam mengepalai solat, makmum mesti mengikutinya dalam semua gerak gerinya. Tidak ada yang boleh melawan atau membantah, selagi ia tidak menyalahi aturan dan peraturan Ilahi dalam solat. Sekiranya ia menyalahi hukum, makmum wajib mengingatkannya dan memperbetulkan kesalahannya.
Sekiranya Imam enggan memperbetulkan kesalahannya yang jelas ketara dalam solat, seperti meninggalkan rukun, sama ada secara terlupa atau jahil, maka makmum tidak wajib mematuhi atau mengikutnya lagi. Oleh itu Imam baru perlu dicari ganti. Konsep kepimpinan yang ditunjukkan contohnya dalam solat ini memberikan suatu gambaran bahawa dalam Islam pemimpin hanya seorang sahaja. Pemimpin itu pula bukan bebas melakukan apa sahaja dalam kepimpinannya, malah ia hendaklah patuh kepada hukum-hukum Allah s. w .t. Kewajipan utama pemimpin adalah membawa pengikutnya {makmumnya} kepada keselamatan dan kesejahteraan yang diliputi oleh rahmat Allah s.w.t. seperti dalam solat, Imam memimpin makmum dari Allahu Akhbar menuju kepada salam.
Yang bererti: kesejahteraan keatas kamu dan kerahmatan dari Allah
iv. Persaudaraan dan Pengurangan Kemiskinan
Dari rukun Islam yang mewajibkan zakat, terselit dalamnya konsep persaudaraan dan pengurangan kemiskinan yang dianjurkan oleh Islam. Yang kaya bersimpati dengan yang miskin. Yang miskin menyayangi yang kaya kerana kemurahan hatinya, maka terjalinlah suatu ikatan ukhuwwah Islamiah yang amat diperlukan oleh insan kini.
Konsep dan falsafah zakat di samping dapat mewujudkan keharmonian dalam masyarakat Islam, ia juga dapat mendekatkan jurang perbezaan antara yang kaya dan yang miskin. Sistem ini jauh lebih baik dari sistem kapitalis dan sosialis.
v. Jihad dan Penyatuan Umat
Rukun berpuasa memaparkan persoalan jihad dalam erti kata yang sebenar . Jihad melawan nafsu dan jihad melawan mungkar
Umat Islam awalan dahulu menjadi umat dan dapat memimpin manusia ke jalan Allah, kerana mereka menghayati jihad. Dengan jihad musuh akan gerun dan mudah menyerah kepada kekuatan umat. Apabila jihad sudah ditinggalkan, maka umat Islam pula yang takut kepada musuh dan menurut segala yang diarahkan oleh mereka.
Dengan berjihad melawan nafsu, perkara-perkara maksiat dapat dijauhi dan perkara-perkara makruf dapat dihayati. Dengan itu jihad melawan musuh dapat digarap dan dilaksanakan dengan sebaiknya.
Apabila umat Islam sudah menjadi baik, jihad dapat ditingkatkan, maka musuh dapat dikurangkan. Dengannya umat Islam dapat dihindarkan dari perpecahan. Penyatuan pun dapat dihasilkan. Konsep haji antara lainnya adalah konsep penyatuan umat. Konsep ketaatan dan kepatuhan kepada Allah secara mutlak. Semua manusia adalah hamba yang perlu patuh kepadaNya sahaja.
3. Islam yang syumul
Falsafah yang terkandung dalam rukun Islam mengajak manusia menghayati Islam yang syumul sepenuhnya. Islam yang mengajak manusia ke jalan selamat sejahtera dunia hingga akhirat.
Dalam syahadah, menggambarkan konsep kerja hati, mengimani Allah s.w.t. Rasulullah s.a. w .mengingatkan manusia dalam sabdanya yang bermaksud:-
"Ingatlah bahawa dalam diri manusia ada suatu keketul daging. Kalau baiklah ketulan itu, maka baiklah semua jasadnya. Kalau rusak ketulan itu, maka rosaklah semuanya. Ketulan tersebut ialah Qalbu. "
Konsep syahadah adalah konsep memperbetul dan memperbaikkan Qalbu itu supaya menjadi sejahtera. Kesejahteraan Qalbu adalah dengan beriman kepada Allah s.w.t.
Solat mengandungi peringatan, bahawa tidak ada suatu gerak yang dilakukan oleh manusia didalamnya melainkan dengan menyebut Allahu Akhbar. Dari permulaan solat manusia menyebut Allahu Akhbar hingga kepada akhir solat insan menyebut
Allah, seperti yang didalam salam penghabisan.
Konsep zakat dan falsafahnya telah dinyatakan oleh AI-Quran yang bermaksud:
"Ambillah dari harta-harta mereka (yang kaya) sebagai sedekah (zakat) untuk menyuci dan membersihkan mereka dengannya."
Konsep zakat adalah konsep penyucian lahir batin manusia. Harta lahir perlu dicucikan. Batin manusia pula perlu dibersihkan.Konsep puasa dan falsafahnya merupakan penerusan dari konsep zakat yang antara lainnya difokaskan kepada penyucian batin manusia dari sifat-sifat yang keji.
Hajj pada umumnya adalah menggambarkan perjalanan manusia dalam hidup ini yang mesti menuju kepada Allah s.w.t. Dari Allah manusia datang kepada Allah ia pasti kembali..Apa yang berlaku dan dilakukan oleh pekerja haji ada imbasan dan kesamaan dengan apa yang berlaku dan dilakukan keatas seorang Islam yang meninggal dunia. Kerana itu konsep haji adalah konsep peringatan dan ingatan kepada manusia tentang distinasi yang sedang ditujunya, seperti yang dijelaskan dalam permulaan tulisan ini.
Dari semua yang tersebut itu lahirlah Islam yang syumul dalam diri manusia
Sekian.
Dipetik daripada :
Himpunan kertas kerja
Kursus Dakwah dan Kepimpinan bagi guru-guru (bukan guru agama ) Sekolah Menenengah dan Rendah
1984
Terbitan: Kementerian Pelajaran Malaysia Kuala Lumpur
http://www.angelfire.com/in/elcom98/rukun.htm
Saturday, May 1, 2010
Rukun Iman
Iman
Erti Iman (الإيمان) secara harafiah dalam Islam adalah bererti percaya kepada Allah. Dengan itu orang yang beriman adalah ditakrifkan sebagai orang yang percaya (mukmin). Siapa yang percaya maka dia dikatakan beriman. Perkataan Iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يوءمن) yang bererti 'percaya' atau 'membenarkan'. Perkataan Iman yang bererti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud:
"Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman."
Takrif Iman menurut istilah syariat Islam ialah seperti diucapkan oleh Ali bin Abi Talib r.a. yang bermaksud: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota."
Aisyah r.a. pula berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota."
Imam al-Ghazali menghuraikan makna Iman adalah: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
Iman ialah membenarkan dengan hati, menyatakan dengan lisan, dan melakukan dengan anggota badan. Ringkasnya orang yang beriman ialah orang yang percaya, mengaku dan beramal. Tanpa tiga syarat ini, seseorang itu belumlah dikatakan beriman yang sempurna. Ketiadaan satu sahaja dari yang tiga itu, sudah lainlah nama yang Islam berikan pada seseorang itu, iaitu fasik, munafik atau kafir.
- Percaya kepada Allah
- Percaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul
- Percaya kepada Malaikat-Malaikat
- Percaya kepada Kitab-Kitab
- Percaya kepada Hari Akhirat
- Percaya kepada Qada' dan Qadar
Dalil Al Quran tentang Rukun Iman
| “ | " Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan RasulNya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada RasulNya (Muhammad s.a.w) dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." (Surah An-Nisaa’: 136)[1] | ” |
Dari ayat diatas Rukun Iman disebutkan hanyalah
- Percaya kepada Allah
- Percaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul
- Percaya kepada Malaikat-Malaikat
- Percaya kepada Kitab-Kitab
- Percaya kepada Hari Akhirat
Tidak disebut rukun iman ke-6 iaitu Percaya kepada Qada' dan Qadar
Kewajipan beriman kepada Qada' dan Qadar sememangnya tidak diterangkan di dalam ayat 136 surah an-Nisaa’. Namun begitu, Rukun Iman ke-6 yang digariskan oleh Rasulullah tetap mempunyai asas di dalam al-Quran berdasarkan kepada ayat-ayatnya yang lain iaitu:-
| “ | " Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu dan (ingatlah), Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi membanggakan diri. (Surah Al-Hadid: 22-23)[2] | ” |
Dalil Hadis tentang Rukun Iman
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
" Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin.
Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu?
Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit.
Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?
Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan solat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan.
Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?
Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.
Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?
Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah.
Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Kitab Sahih Muslim)
Penjelasan Rukun Iman
1. Percaya kepada Allah
Konsep yang paling asas ialah percaya bahawa tuhan itu satu (Tauhid). Konsep keesaan Allah ini adalah mutlak, dan tidak relatif kepada apa apa jua yang wujud di dunia ini. Dalam Surah Al-Ikhlas,

"Katalah (wahai Muhammad) bahawa Allah itu tunggal. Allah tempat meminta. Tidak Dia beranak dan tidak juga Dia diperanakkan.
Dan tiada yang serupa denganNya, ."
Dalam Bahasa Melayu, perkataan Allah sememangnya dikhaskan untuk merujuk Tuhan dalam Islam. Walaubagaimanapun, perkataan Arab Allah boleh diterjemahkan juga kepada perkataan Tuhan kerana Allah bukanlah nama khas untukNya. Ini berbeza dengan Yahudi, kerana nama Yahweh adalah nama khas tuhan mereka. Walaupun tiada imej visual Tuhan atau gambaran mengenaiNya (disebabkan larangan dalam memuja sesuatu), Muslim mendefinisi Tuhan melalui sifat-sifatNya, yang dikenali sebagai 99 nama Allah.
Wajib bagi orang Islam lelaki dan perempuan yang telah baligh dan berakal untuk mengetahui sifat-sifat wajib bagi Allah, sifat-sifat mustahil dan sifat jaizNya, yang jumlah kesemuanya ada 41. Sifat-sifat wajib Allah ada dua puluh, sifat-sifat mustahil juga dua puluh dan sifat jaizNya ada satu.
(Lihat juga:Sifat-sifat Allah)
Allah ialah nama bagi Tuhan yang sebenar. Allah yang mencipta seluruh alam dan isinya. Allah yang mengatur dan menjaganya. Allah tidak boleh dilihat, tetapi bukti-bukti sangat banyak untuk menunjukkan pada akal yang waras dan adil bahawa Allah itu wajib ada. Bukan sekadar kita wajib mempercayai bahawa Allah itu ada, bahkan wajib pula kita menyembah NYA.
2. Percaya kepada Para Malaikat
Rukun iman yang kedua ialah percaya kepada Malaikat. Setiap muslim yang mengucap syahadah wajib mempercayai adanya malaikat. Malaikat juga adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya. Zat malaikat adalah halus, tidak nampak oleh mata kasar manusia biasa tetapi mampu dilihat oleh manusia yang luar biasa seperti Nabi dan Rasul. Rupa malaikat yang sebenar hanya Allah sahaja yang tahu. Namun berdasarkan hadis, malaikat mampu menjelma dalam pelbagai rupa manusia dan bentuk makhluk yang lain. Ia berakal, boleh berkata-kata dan boleh bergerak ke suatu jarak yang jauh dalam masa yang singkat. Keadaan malaikat semata-mata adalah untuk taat dan menjalankan titah perintah Allah. Malaikat itu tidak makan dan tidak minum, tidak mengantuk dan tidak tidak tidur, tidak juga ia berasa penat dan letih.
Malaikat sangat banyak bilangannya dan Allah sahaja yang tahu bilangan sebenarnya. Dalam ilmu Tauhid, umat Islam diwajibkan mengenal 10 malaikat dan tugasan mereka. Iaitu :
- Malaikat Jibrail : Tugasnya membawa wahyu dari Allah Ta’ala kepada Rasul-rasul dan Nabi-nabi, juga menguruskan bala seperti gempa bumi, air bah, ribut dan lain-lain lagi.
- Malaikat Mikail : Tugasnya membawa rezeki dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, membiakkan haiwan, mengeluarkan hasil galian bumi.
- Malaikat Israfil : Tugasnya untuk meniup “sangkakala” ketika sampai masa kiamat iaitu bumi akan hancur dab sekali lagi ia meniup sangkakala itu ketika sampai masa manusia hidup semula dan keluar dari kubur untuk perhitungan di akhirat.
- Malaikat Izrail : Tugasnya ialah mengambil nyawa, iaitu mematikan apabila sudah sampai ajal, dan tugasnya mengambil nyawa tidak akan cepat sesaat dan tidak akan lewat sesaat.
- Malaikat Munkar : Tugasnya menyoal orang mati di alam kubur.
- Malaikat Nakir : Tugasnya menyoal orang mati di alam kubur.
- Malaikat Raqib : Tugasnya ialah menulis pahala bagi orang yang membuat kebaikan.
- Malaikat Atid : Tugasnya adalah untuk menulis dosa bagi orang yang membuat mungkar dan kejahatan.
- Malaikat Ridhwan : Tugasnya menjaga syurga.
- Malaikat Malik : Tugasnya menjaga neraka.
Frman Allah Ta’ala Surah At Tahrim ayat 66:
Malaikat itu tidak menderhaka kepada Allah mengenai apa yang DIA perintah kepada mereka, dan mereka membuat apa jua perintah oleh-NYA.
Malaikat dijadikan Allah untuk menjalankan tugas-tugas yang tertentu dan berlainan. Setiap tugasan yang diberikan Allah kepada Malaikat, akan dilakukan oleh Malaikat tanpa kompromi.
Zaman sekarang, sudah ada orang yang mendakwa mampu menghalang tugas Malaikat.
Percaya adanya Malaikat yang telah diciptakan oleh Allah untuk melaksanakan perintah Allah. Allah menciptakan Malaikat dari Nur iaitu cahaya. Maka, Malaikat tidak terdiri daripada jisim dan tidak diberikan nafsu untuk makan, minum atau tidur. Malaikat juga tidak mempunyai jantina untuk memudahkan mereka mentaati Allah sepanjang masa.
3. Percaya kepada Kitab-Kitab Allah
Salah satu daripada Rukun Iman agama Islam adalah percaya kepada kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah.
Orang Islam percaya bahawa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Ia diakhiri dengan kitab Al-Quran.
Kitab-kitab yang wajib diimankan adalah:
- Taurat: diturunkan kepada Nabi Musa a.s.
- Zabur: diturunkan kepada Nabi Daud a.s.
- Injil: diturunkan kepada Nabi Isa a.s.
- Al-Quran: diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Orang Islam percaya bahawa pada masa kini, kitab-kitab selain Al-Quran telah diubahsuai mengikut kehendak pihak-pihak tertentu; maka ia bukan lagi merupakan naskah-naskah yang tulen. Al-Quran menyempurnakan segala kitab-kitab yang terdahulu.
4. Percaya kepada Nabi dan Rasul
Beriman kepada nabi dan rasul ialah meyakini bahwa nabi dan rasul itu benar-benar diangkat oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke arah jalan hidup yang baik yang diridlai Allah. Islam mengajar umatnya bahawa Allah menyampaikan wahyuNya melalui malaikat kepada nabi dan rasul. Nabi ialah seorang lelaki yang dipilih Allah untuk menerima wahyu untuk kegunaan dirinya dan umatnya sahaja.
Rasul dan nabi merupakan manusia biasa. Islam menghendaki penganutnya untuk mempercayai setiap nabi dan rasul ini dan tidak membezakan mereka antara satu sama lain. Rasul pula merupakan seorang lelaki yang dipilih untuk menerima wahyu untuk dirinya serta disampaikan kepada orang lain. Dilaporkan terdapat 313 orang telah dipilih sebagai rasul sejak bermulanya penciptaan manusia. Manakala bilangan nabi pula adalah 124,000 orang (termasuk rasul). Terdapat lebih kurang 25 rasul yang dinyatakan dalam Al-Quran, termasuk Adam, Idris, Nuh, Luth, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.
Muhammad merupakan nabi dan rasul yang terakhir. Ini bermakna tiada nabi dan rasul akan dilantik selepas kewafatan baginda. Baginda telah menyampaikan peringatan terakhir (iaitu Al Quran dan As Sunnah) kepada manusia sebelum berlakunya hari kiamat.
Di antara 25 rasul, terdapat 5 orang rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Ulul Azmi adalah gelar yang diberikan kepada rasul Allah yang memiliki ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalahnya.
Rasul diberi tugas oleh Allah. Secara umumnya, tugas nabi dan rasul adalah membawa kebenaran, memberikan khabar gembira dan peringatan kepada umatnya agar mereka menjadi umat yang beriman kepada Allah agar tidak sengsara dunia dan akhirat. Para rasul diberi wahyu oleh Allah yang membuktikan bahwa mereka adalah pembimbing dalam segala amal perbuatannya pantas dijadikan cermin tauladan.
Apakah hikmah atau faedah diadakan Rasul dan Nabi ?
Antara faedahnya ialah Allah mahu diri NYA dikenali. Rasul dan Nabi diutus kepada umat manusia agar umat manusia kenal Allah sebagai Tuhan yang menciptakan alam ini. Dengan adanya Rasul dan Nabi, manusia akan kenal dengan tepat dan siapa Tuhan yang sebenar, serta faham pula kewajipan-kewajipan yang perlu ditunaikan sebagai seorang makhluk yang diciptakan Allah SWT. Jika seseorang yang diciptakan Allah tidak kenal siapa Tuhannya yang sebenar dan tidak mengakui keagungannya dengan jalan yang sebenar, nescaya sesatlah dirinya dan segala amal kebajikan yang dilaksanakannya tiada nilai disisi Allah.
Sifat-sifat Rasul dan Nabi
1. Siddiq maknanya Benar. Apa yang disabdakan oleh Rasul/Nabi adalah benar dan dibenarkan kata-katanya. Siddiq dan sadiqul masduq. Rasul/Nabi tidak berkata-kata melainkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT. Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat KIZZIB (Dusta ). Mustahil Rasul/Nabi mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui dan tidak diwahyukan Allah kepadanya. Firman Allah bermaksud: Tidaklah dia (Rasulullah SAW) mengucapkan mengikut kemahuan hawa nafsunya. Apa yang diucapkan tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. (An-Najm: 3-4).
2. Sifat yang wajib bagi Rasul/Nabi adalah AMANAH. Amanah ialah Rasul/Nabi akan melakukan sesuatu serta melaksanakan hokum-hukum Allah dengan benar dan tepat sebagaimana yang diwahyukan Allah SWT. Dan juga Rasul/Nabi tidak memungkiri janji.
“Barangsiapa yang berdusta atas nama ku, siapkanlah tempatnya di dalam api neraka “ (Bukhari, Muslim )
Maka mustahil Rasul/Nabi bersifat KHIANAT iaitu tidak amanah dan mungkir janji.
3. Wajib bagi Rasul/Nabi bersifat dengan sifat TABLIGH iaitu menyampaikan. Rasul/Nabi menyampaikan kepada umatnya apa yang Allah wahyukan kepadanya. Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat KITMAN iaitu menyembunyikan.
Wajib bagi Rasul/Nabi bersifat dengan sifat FATANAH iaitu bijaksana. Rasul/Nabi mampu memahami perintah-perintah Allah dengan betul dan tepat. Mampu pula berhadapan dengan penentang-epnentangnya dengan bijaksana dengan bukti-bukti yang kukuh . Mustahil Rasul/Nabi bersifat dengan sifat Jahlun iaitu bebal.
Dan satu sifat yang jaiz atau sifat yang harus bagi Rasul/Nabi ialah Aradhul Basyariyah iatu untuk bersifat dengan sifat-sifat yang dipunyai oleh manusia-manusia biasa. Seperti ingin makan, berkahwin, mempunyai zuriat dan sebagainya.
5. Percaya kepada Hari Akhirat
Kita wajib percaya akan datangnya Hari Kemudian atau akhirat sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an. Di terangkan bahawa pada akhir zaman akan datang suatu hari di mana semua makhluk yang ada akan menjadi rosak dan binasa, dimusnahkan dan akan dibangunkan semula. Kerana itu, hari akhirat turut mendapat julukan hari kiamat atau pembangkitan.
Setelah segalanya hancur pada hari kiamat, Allah memerintahkan kepada malaikat Israfil untuk bangun terlebih dahulu dan melaksanakan perintah Allah SWT meniup sangkakala, maka bangunlah nyawa yang telah mati untuk dihadapkan ke pengadilan Allah SWT dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya selama di dunia. Itulah hari pembalasan. Siapa yang amalannya lebih banyak dengan kebaikkan akan mendapat kebahagiaan di syurga. Sebaliknya, bagi amalannya lebih banyak yang jahat akan mendapat siksaan dan ditempatkan di neraka.
6. Percaya kepada Qada' dan Qadar
Kita wajib percaya bahawa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, semuanya itu, menurut apa yang ditentukan dan ditetapkan oleh Tuhan Allah, sejak sebelumnya (zaman azali). Jadi segala sesuatu itu (nasib baik dan buruk) sudah diatur dengan rencana-rencana tertulis atau batasan-batasan yang tertentu. Tetapi kita tidak dapat mengetahuinya sebelum terjadi. Rencana sebelumnya itu Qadar atau Takdir bermaksud ketetapan. Terlaksananya berupa kenyataan, dinamakan Qada bermaksud keputusan perbuatan (pelaksanaan). Sebahagian Ulama’ menamakan takdir itu juga qada dan qada.
Sumber - http://ms.wikipedia.org